Cuaca Ekstrem Sejak Awal 2026, Nelayan Situbondo Terpuruk dan Pendapatan Anjlok


SITUBONDO-Kehidupan puluhan nelayan di Situbondo tengah diterpa badai ekonomi setelah hasil tangkapan ikan menurun drastis sejak awal Januari 2026. 

Kondisi tersebut dipicu oleh perubahan pola ikan yang tidak muncul, serta datangnya musim hujan lebih awal, menyebabkan cuaca ekstrem dan tidak menentu untuk melaut.

Sanit, nelayan dari Dusun Curah saleh, Seletreng, Kecamatan Kapongan, mengungkapkan keresahan yang melanda komunitasnya.

“Bulan Desember ikan masih muncul, cuman sejak Januari tidak ada, hasil tangkapan menurun drastis,” keluhnya kepada Wartawan Orbitz.id senin (12/01/2026).

Menurut dia, cuaca buruk seperti angin kencang membuat banyak nelayan enggan melaut demi keselamatan. Saat ini, mereka hanya mengandalkan pancing di perairan dangkal dengan hasil yang minim.

“Saat ini, hasil tanggapan kami hanya sekitar 1 sampai 2 kilogram saja. Padahal, kalau kondisi normal, kami bisa dapat 1 sampai 2 kuintal,” ucapnya.

Penurunan hasil tangkapan ini berdampak langsung pada pendapatan harian nelayan. Jika sebelumnya mereka bisa meraih Rp1-2 juta per hari, kini hanya sekitar Rp25-50 ribu perhari.

Kesulitan ekonomi memaksa sebagian nelayan mengambil langkah pahit.

“Ada yang menggadaikan atau menjual simpanannya berupa emas. Bahkan, ada yang terjebak utang Mekar atau utang balen (rentenir) yang mencekik,” kata Sanit.

Ia menegaskan kondisi sulit ini tidak hanya dialami nelayan Seletreng, tetapi juga dirasakan di wilayah lain seperti Besuki, Penarukan, dan Mimbo. Disampaikan pula harapan besar agar Pemkab Situbondo segera turun tangan.

“Kami sangat berharap pemerintah daerah responsif terhadap kondisi ekonomi para nelayan ini. Tidak ada sama sekali bantuan untuk nelayan,” pungkasnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak