SITUBONDO-Isu perampasan lahan dan eksploitasi sumber daya alam di Papua kembali menjadi sorotan tajam dalam agenda Nonton Bareng (Nabar) dan Diskusi Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan yang diinisiasi oleh Kader PMII STAI Nurul Huda (STAINH) ini digelar di Kantor Komisariat,Situbondo, pada Senin malam (11/05/2026).
Film hasil kolaborasi Watchdoc, Greenpeace, Pusaka, dan Jubi.id ini memantik diskusi hangat mengenai kebijakan pemerintah terkait swasembada pangan dan energi yang dinilai berdampak sistemik terhadap masyarakat adat di Papua.
Dalam sesi diskusi, muncul pemaknaan mendalam mengenai judul “Pesta Babi”. Judul tersebut dinilai bukan sekadar representasi budaya, melainkan sebuah bentuk perlawanan simbolis terhadap intervensi kebijakan pusat di tanah Papua.
Salah satu poin kritis yang mengemuka dalam forum adalah perbandingan antara tindakan pemerintah saat ini dengan praktik kolonialisme masa lalu. Para peserta menyoroti catatan kelam Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen, yang membantai ribuan warga lokal di Kepulauan Banda demi monopoli perdagangan pala VOC.
“Jika tindakan represif dan eksploitasi serupa terjadi lagi di masa kini, lantas apa yang membedakan antara pemerintah kita dengan pemerintah kolonial?” tulis salah satu poin refleksi yang muncul dalam jalannya diskusi.
Meskipun dinamika forum dipengaruhi oleh berbagai kendala teknis, substansi diskusi tetap menyentuh isu-isu eksistensial. Para kader PMII yang didominasi mahasiswa STAI Nurul Huda ini menyoroti ancaman hilangnya jutaan ton oksigen akibat pembukaan lahan besar-besaran.
Isu di Papua dinilai harus menjadi stimulus bagi kepedulian generasi muda. Sebagai golongan yang dikenal memiliki idealisme tinggi, mahasiswa dituntut untuk tidak menutup mata terhadap ketidakadilan struktural yang terjadi di ujung timur Indonesia.
Diskusi malam itu juga menjadi ajang oto-kritik bagi gerakan mahasiswa saat ini. Forum mengidentifikasi beberapa tantangan besar yang menghambat respons mahasiswa terhadap isu-isu struktural.
Ketua Rayon Syariah PMII Komisariat STAI Nurul Huda, zuhury, mengatakan kegiatan ini bertujuan membuka ruang diskusi bagi kader PMII terkait kondisi masyarakat Papua.
“Melalui kegiatan ini kami ingin membuka ruang diskusi bagi kader PMII agar memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat Papua serta mengkritisi kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan di wilayah tersebut,” ujarnya.
Ketua Komisariat PMII STAI Nurul Huda Hariri Khuzaini, menilai pembangunan di Papua perlu tetap memperhatikan hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan.
Kegiatan yang berakhir dengan khidmat ini menjadi pengingat bagi para kader PMII STAI Nurul Huda untuk terus merawat nalar kritis dan menjaga jarak aman dari kekuasaan demi keberpihakan pada rakyat yang tertindas.
“Pemerintah juga perlu memperhatikan batas-batas wilayah adat yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua,” katanya.
Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam di Papua harus mempertimbangkan mata pencaharian masyarakat adat yang bergantung pada hutan dan sumber daya tradisional, seperti berburu dan mencari sagu.
Film “Pesta Babi” sendiri menggambarkan tradisi adat Papua yang sarat nilai kebersamaan, solidaritas sosial, dan penghormatan dalam kehidupan masyarakat setempat.
