SITUBONDO-Pengurus Cabang Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri atau kopri Situbondo, Jatim, menggelar Sekolah kader kopri atau SKK ke-VIII, Jumat hingga Minggu (15/5/2026).
Berlangsung di aula Gedung Gelanggang Olahraga Kabupaten Situbondo, SKK ke-VIII mengusung tema “Kemandirian Perempuan Dalam Arus Digital : Ikhtiar membangun gerakan progresif dan humanis”.
Pembukaan dilangsungkan di Aula Gedung GOR. Dihadiri Ketua Umum Kopri PKC PMII Jawa Timur, Kholisatul Hasanah,dan Ketua Majelis Pembina PC PMII Situbondo, Bella Dwi Sari,dan turut hadir Ketua Umum PC PMII Situbondo Sahabat Riyanto.
Ketua Kopri PKC Jatim Lisa mengatakan, sebagai organisasi perempuan, Kopri harus mampu konsisten mengawal gerakan perempuan di Indonesia. Upaya itu hanya bisa dilakukan dengan adanya proses kaderisasi yang baik.
Ia menyatakan, kaderisasi di tubuh Kopri dirancang adaptif dan responsif terhadap isu-isu gender. Agar dapat memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan.
"Saya sangat berharap forum ini menjadi tempat berproses yang baik. Belajar bagaimana memperjuangkan keadilan gender di berbagai lini kehidupan," ujarnya ketika pembukaan SKK VIII.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Pembina Kopri PC PMII Situbondo,Bella Dwi berharap agar kopri harus selalu berdampingan dan berkolaborasi dalam menjalankan perannya dan juga menyetarakan .
"Kopri harus bisa mengisi semua lini dengan kemampuannya, dengan ide-idenya, tunjukkan bahwa kita mampu. Kader Kopri harus mampu berkiprah utamanya di masyarakat dengan terus berkolaborasi," katanya.
Ketua Kopri PKC PMII Jawa Timur,Kholisatul Hasanah, menyoroti pentingnya kader beradaptasi dengan perubahan zaman. Serta menghadapi tantangan dengan percaya diri.
"Di tengah disrupsi transformasi digital, kita harus mampu beradaptasi dan menghadapi perubahan. Karena teknologi saat ini tidak bisa dibendung, kader PMII harus tetap percaya diri dan tidak berkecil hati dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Menurutnya, kader PMII harus punya pemikiran progresif dan mampu menjawab tantangan zaman dengan inovasi. Perkembangan teknologi harus dijadikan peluang untuk memperkuat gerakan kader perempuan, agar lebih efektif dalam menyuarakan isu-isu strategis.
“Kita tidak boleh hanya jadi penonton di era digital ini. Harus mampu menggunakan teknologi sebagai alat perjuangan dan menyebarkan nilai-nilai ke-Islamaan serta kebangsaan dengan cara yang kreatif,” terangnya.
Ia juga mendorong kader Kopri lebih aktif dalam menyuarakan kepentingan perempuan di berbagai lini kehidupan.
“Jadi, kader Kopri harus berani berbicara, harus bisa menempatkan diri dalam berbagai forum untuk membela hak-hak perempuan dan memperjuangkan keadilan. Jangan hanya menjadi pelengkap, tapi harus menjadi aktor perubahan,” tegasnya.
