SITUBONDO-Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo kembali melaksanakan ruang kritik untuk masyarakat, melalui forum Rebuaan bertajuk “Kritik Aku Semampumu, Cintai Situbondo Sepenuhnya”.
Dalam forum ini Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengajak publik untuk menyampaikan kritik, saran, hingga gagasan demi kemajuan Kabupaten Situbondo.
Kegiatan yang berlangsung di depan Pendopo Rakyat Situbondo, diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Situbondo ini, bukan sekadar forum seremonial. Tetapi, Mas Rio, panggilan akrab Bupati Situbondo meminta kepada masyarakat, mengkritik kepemimpinannya dan Mbak Ulfi.
Mas Rio menegaskan, pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari kemampuan fiskal pemerintah. Ia menyebut, gerak pemerintah pada dasarnya bertumpu pada uang rakyat yang dikelola melalui APBD. Karena itu, masyarakat juga perlu mengetahui kondisi keuangan daerah secara jujur dan terbuka.
“Pemerintah ini bergerak menggunakan pajak rakyat. Karena itu masyarakat harus tahu kondisi fiskal Situbondo seperti apa,” ujar Mas Rio di hadapan peserta forum.
Ia kemudian membeberkan kemampuan fiskal Situbondo dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, fiskal Situbondo hampir menyentuh Rp 2 triliun, lalu pada 2025 sebesar Rp 1,9 triliun, dan pada 2026 turun menjadi sekitar Rp 1,58 triliun. Dari jumlah itu, kata dia, sekitar separuh anggaran tersedot untuk belanja gaji pegawai.
“Tahun 2024 hampir menyentuh Rp 2 triliun, 2025 sekitar Rp 1,9 triliun, dan tahun 2026 tinggal Rp 1,58 triliun. Hampir separuhnya habis untuk gaji pegawai. Jadi ruang fiskal kita memang terbatas,” ungkapnya.
Karena itu, lanjut Mas Rio, pemerintah harus benar-benar selektif menentukan prioritas pembangunan. Salah satu yang dikejar adalah sektor infrastruktur melalui skema IJD atau Impres Jalan Daerah. Menurutnya, Jalan Lingkar Utara menjadi solusi agar persoalan jalan di kawasan perkotaan bisa segera diatasi.
“Melalui IJD, kami ingin mendorong Jalan Lingkar Utara sebagai solusi agar persoalan infrastruktur jalan di perkotaan bisa segera teratasi,” katanya.
Di sektor ekonomi, Mas Rio menekankan bahwa Situbondo tidak boleh hanya bergantung pada satu sektor.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan berbahaya jika hanya ditopang satu bidang, karena itu struktur ekonomi daerah harus diperkuat secara lebih merata melalui pertanian, perikanan, UMKM, perdagangan, hingga pariwisata.
“Pertumbuhan ekonomi itu berbahaya kalau hanya bertumpu pada satu sektor. Situbondo harus bergerak dengan banyak kaki: pertanian jalan, UMKM hidup, perikanan tumbuh, wisata bergerak, dan perdagangan kuat,” tegasnya.
Secara data, pertumbuhan ekonomi Situbondo memang menunjukkan tren positif. Pada 2021 pertumbuhan ekonomi tercatat 3,7 persen, kemudian naik menjadi 5,3 persen pada 2022, 4,9 persen pada 2023, 4,81 persen pada 2024, dan 5,28 persen pada 2025. Mas Rio menyebut angka 2025 itu bahkan berada di atas tingkat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Tahun 2025 pertumbuhan ekonomi Situbondo mencapai 5,28 persen. Ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi angka ini tidak boleh membuat kita puas, karena tugas kita adalah memastikan pertumbuhan itu dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Mas Rio juga mengungkapkan bahwa perputaran uang di Situbondo dalam setahun sebenarnya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,8 triliun. Menurut dia, tantangan pemerintah adalah memastikan uang yang beredar itu benar-benar memberi dampak pada ekonomi lokal, bukan justru lebih banyak mengalir ke luar daerah.
“Uang yang berputar di Situbondo dalam satu tahun sekitar Rp 2,8 triliun. Pertanyaannya, apakah uang itu cukup banyak tinggal di Situbondo dan menghidupi warga Situbondo? Itu yang harus kita benahi,” katanya.
Di bidang kesehatan, Pemkab Situbondo mengalokasikan anggaran sekitar Rp 73 miliar. Sementara di sektor pendidikan, Mas Rio menyiapkan beasiswa S1 sampai S3 dengan skema yang disebut berbeda dari daerah lain.
Jika di sejumlah daerah beasiswa hanya menanggung biaya kuliah, Situbondo akan menanggung hingga biaya hidup penerima manfaat, khususnya untuk jurusan STAM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
“Kalau di kota lain beasiswa itu biasanya hanya biaya kuliah. Di Situbondo, kami ingin tidak hanya kuliahnya, tapi juga biaya hidupnya.
Kita siapkan untuk anak-anak Situbondo yang mengambil jurusan STAM, karena jurusan tersebut yang dibutuhkan daerah,” jelas Mas Rio.
Tak hanya itu, Pemkab Situbondo juga menyiapkan pembangunan Sekolah Rakyat yang direncanakan mulai dibangun pada Oktober 2026 di Desa Seliwung. Program ini diharapkan menjadi jalan bagi masyarakat kurang mampu agar tetap memiliki akses pendidikan yang layak.
